Selasa, 07 Februari 2017

LARANGAN MENCELA MAKANAN

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu beliau mengatakan,
  كَانَ اِذَا اشْهَاهُ اكَالَهُ وَاِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ. مَاعَابَ النَّبِيُّ طَعَامًا قَطٌّ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukai satu makanan, maka beliau memakannya. Jika beliau tidak suka, maka beliau meninggalkannya.” (HR. Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064)


Sesorang dikatakan mencela suatu makanan adalah ketika seseorang menikmati hidangan, lalu dia berkomentar tentang hidangan tersebut. Seperti, tidak matang, kurang asin, terlalu asin, terlalu matang dan sebagainya.
Makanan tidak boleh dicela karena makanan juga ciptaan Allah. Di samping itu mencela makanan, itu juga juga menimbulkan ketersinggungan (sakit hati) dari orang yang membuat dan menyajikan makanan tersebut. Kok bisa dikatakan seperti itu ?, karena ia sudah berusaha agar makanan yang ia buat menjadi enak. Tapi, apa daya yang ia peroleh hanya celaan saja. Oleh sebab itu, syariat islam mengajarkan untuk tidak diperbolehkannya mencela makanan. Karena, bisa menyebabkan hati seseorang menjadi sedih. 

Dari Syekh Muhammad Sholeh al-Utsaimin berkata, “Tha’am” yang biasanya di artikan dengan makanan. Makanan adalah sesuatu yang  bisa dinikmati rasanya, bukan hanya makanan saja tapi minuman juga termasuk. Seharusnya  apabila kita di beri hidangan berupa makanan atau minuman, hendaknya kita bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan kepada kita. Karena kita sangat mudah mendapatkan nikmat Allah tersebut dan kita tidak mencelanya. Apabila makanan tersebut enak dan menggiurkan, maka hendaklah kita memakanya. Jika tidak enak, maka demikian kita tidak perlu mencela dan tidak memakanya. Pernyataan ini adalah hadits dari Abu Hurairah. BahwasannyaNabi Muhammad SAW tidak pernah mencela suatu makanan. Apabila beliau menyukai yang halal beliau memakanya. Jika tidak, beliau tidak memakanya. Semisal ada orang yang diberi pisang dan pisang yang diberikan tersebut adalah pisang  yang masih mentah, maka orang tersebut tidak boleh mencelanya. Seperti apa yang telah diajarkan Nabi Muhammad SAW kepada kita.

Pernyataan dari Hadits Abu Hurairah diatas memuat beberapa kandungan pelajaran, diantaranya adalah sebagai  berikut:
1.      Nabi Muhammad SAW, tidak pernah mencela setiap makanan yang mubah. Tetapi Nabi hanya mencela dan melarang setiap makanan yang menurutnya haram.
2.      Hadits di atas telah memperlihatkan alangkah mulianya akhlak Rasulullah SAW. Beliau adalah seseorang yang sangat mengerti perasaan orang yang membuat dan memasak makanan tersebut. Oleh sebab itu Nabi tidak pernah mencela pekrjaan yang telah mereka lakukan, tidak menyakiti hati mereka dan tidak melakukan hal-hal yang membuat mereka sedih. 
3.      Hadits di atas juga mengajarkan seseorang bagaimana dalam menghargai suatu makanan. Yang awalnya seseorang tidak tahu mengenai hal tersebut menjadi tahu.
4.      Segala sesuatu yang di perbolehkan oleh syariat tidaklah mengandung ketidaksempurnaan. Oleh sebab itu kita tidak boleh mencelanya.
5.      Hadits di atas juga merupakan pelajaran yang di ajarkan oleh Rasulullah, mengenai menyikapi suatu makanan yang tidak di sukai oleh setiap orang. Yaitu dengan meninggalkan dan tidak mencelanya.

Kita tidak boleh mencela makanan, tetapi sebaliknya kita dianjurkan memuji makanan. Dalam bab kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mengatakan bahwa “tidak boleh mencela suatu makanan dan anjuran untuk memuji suatu makanan”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar