Selasa, 07 Februari 2017

HUKUM DAN KEUTAMAAN I’TIKAF



Makna I’tikaf
I’tikaf menurut bahasa adalah sesuatu itu ditetapi dan berusaha untuk bertahan supayatetap ada pada dirinya, entah itu suatu kebajikan maupun itu sebuah keburukan.
Seperti firman Allah di bawah ini.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَحِيْمِ
وَجَا وَزْنَا بِبَنِى اِسْرَاءِيْلَ الْبَحْرَ فَاَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكِفُوْنَ عَلَى اَصْنَا مٍ لَهُمْ
Dan kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu,maka setelah mereka sampai kepada sesuatu kaum yangberi’tikaf (menyembah) berhala mereka.” (Qs. Al-A’raf:38)
Adapun menurut hukum syara’ i’tikaf adalah di mana seorang muslim itumenetap di sebuah masjid dengan tujuan karena taat dan beribadah kepada Allah swt. Adapun lafadzniatnya i’tikaf adalah sebagai berikut.

Bahaya Fitnah

Ada pepatah mengatakan :
يتقيمايدريلامنيتقيكيف
“Orang yang tidak mengetahui fitnah dan dampak buruknya sangat mungkin jatuh ke dalam suatu fitnah dan bahkan bergelimang dengannya”.
Barangsiapa yang rendah pengetahuannya akan fitnah dan dampak buruknya, maka ia akan sangat mungkin masuk kedalamnya atau bahkan bergelimang dengannya.Dia tidak menyadari bahwa hal ini sangat membahayakan hidupnya.Jika hal ini terus berlanjut, maka kemungkinan besar dia akan menyesal.Mengetahui dampak buruk akan suatu bahaya, menjadikan seseorang lebih berhati-hati dalam mengambil sikap dan melakukan suatu tindakan.Begitu juga dengan mengetahui bahaya fitnah dan dampak negatifnya akan sangat besar manfaatnya bagi kehidupan.
Sehubungan dengan itu, mengenal fitnah termasuk sikap yang dapat meghindarkan kita dari keburukan akibat fitnah, dan hikmah dari kembalinya suatu perkara. Sikap ini termasuk sikap ketakdziman seorang hamba terhadap tuhannya, karena ia akan selalu memandang jauh kedepan sebelum melakukan sesuatu.

Ancaman Bagi Orang yang Meninggalkan Shalat

Ancaman Bagi Orang yang Meninggalkan Shalat

Kebahagiaan hidup di dunia  dan akhirat tentulah harapan  kita, jadi marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT, dengan menjauhi segala larangannya dan menjalankan segala perintanya.
Dalam rukun islam, solat adalah salah satu rukun wajib setelah dua kalimat syahadat.
Solat  merupakan pokok ibadah yang diutamakan setelah keimanan.
Bagi mereka yang mengaku beriman, solat bukan hanyalah kewajiban perintah yang apabila dilakukan mendapatkan pahala dan berdosa bila ditinggalkan.
Namun , perantara menggapai ketenangan beserta ketentraman jiwa adalah salah satu tujuan dari mereka.

AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR



Pada zaman Modern ini, semakin hari semakin banyak kejahatan yang terjadi di dunia ini, seolah-olah kejahatan itu sudah menjadi kebiasaan hidup. Sudah banyak fenomena di dunia ini seperti hal nya bencana banjir, puting beliung,gempa bumi, dan masih banyak lagi contohnya. Bukankah semua bencana itu dari ulah manusia itu sendiri?.Mereka tidak mau menjaga apa yang telah Allah SWT berikan. Gunung-gunung di manfaatkan untuk kepentingan pribadi dan tidak mau mereboisasi, para nelayan memanfaatkan bahan kimia untuk mencari penghasilan dengan cara pengeboman, dan masih banyak contoh ulah manusia itu sendiri memperlakukan alam dengan tidak sewajarnya. Namun, tidak ada seorangpun yang melarang. Mereka tidak menjalankan perintah Allah SWT, seperti halnya AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR yang saat ini mulai jarang kita jumpai. Seandainya manusia itu sadar bahwa Allah SWT telah bersabda dalam Al-Qur’an, surat Al-‘Asr ayat 1-3

Adab Makan

Saatinisudahmenjadihalbiasabagiseorangmuslimmakansambilberjalan,makandengan tangankiritanpado’a, bahkanmenyisahkanmakanan, Hal tersebutseakanmenjadipemandangan yang sudahbiasaditempat-tempatumum. Bagaimana dengan amalan yang besar pahalanya apabila amalan yang kecil saja sudah ditinggalkan dan diremehkan, atau karena hal tersebut adalah amal ibadah yang kecil lalu kita tinggalkan dan meremehkannya??bukan demikian saudaraku…tetapi apabila kita rutin melakukan hal yang sedikit pasti lama-kelamaan akan menjadi banyak, seperti pepatah yang berbunyi,”Sedikit demi sedikit pasti akan menjadi sebukit”.Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ (٣٣)
“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul, dan janganlah kamu merusakkan segala amalmu.” (QS. Muhammad 33)

Orang Boros Temannya Setan

Islam memerintahkan para memeluknya supaya untuk hidup lebih sederhanaPadahal menggunakan harta yang di perbolehkan, serta gemar shadaqoh dan infak di jalan kebaikan. Sebaliknya, islam melarang umatnya untuk membelanjakan hartanya dengan terlalu boros (menghambur-hamburkannya). Namun, kebanyakan umat islam lebih bersenang-senang di jalan syetan dari pada di jalan Allah SWT. Melalui hidup boros, senang pamer kesenangannya, berlebihan membelanjakan hartanya, dan bakhil untuk infak di jalan Allah SWT.

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).

LARANGAN MENCELA MAKANAN

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu beliau mengatakan,
  كَانَ اِذَا اشْهَاهُ اكَالَهُ وَاِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ. مَاعَابَ النَّبِيُّ طَعَامًا قَطٌّ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukai satu makanan, maka beliau memakannya. Jika beliau tidak suka, maka beliau meninggalkannya.” (HR. Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064)